• Home
  • Abatasa
Mencari Setitik Cahaya Dalam Gelap
  • Profile

    • Saiful Bahri
      Saiful Bahri
      supel, humoris, sederhana
  • Categories

    • Artikel (1)
    • Cermin Hati (1)
    • Mutiara Kata (1)
    • SaMaRa (0)
    • Tausyiah (3)
  • Tag

  • Archives

    • October 2010
    • September 2010
    • August 2010
  • Links

  • Statistik

      Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 7836 kali
Okt 12

Kematian Hati

Tausyiah 2 Comment »


Berapa banyak orang menguasai teori ilmu serta dikenal dan dihormati sebagai ilmuwan dan ulama, namun kehilangan potensi hati nurani. Bashirahnya tertutup limbah dunia, membuat cahayanya tak tembus menerangi jalan. Para koruptor yang memiskinkan rakyat dan menguras kekayaan bangsa untuk kepentingan diri sendiri adalah para pengkhianat yang mati rasa. Mereka yang memproduk siaran cabul, menyiarkan kebebasan seks, membuka rumah bordil, memproduksi dan mengedarkan tuak, candu dan madat adalah makhluk yang padam hati nurani. Kehidupan fisik tak mampu mengimbangi busuk akhlaq mereka yang membuat tak nyaman lingkungan. Tak ada orang yang kerasan berlama–lama dekat mereka. Hidup menebar bau busuk dan mati menuai amal busuk.




Mereka yang keruh nurani, selalu melihat dengan angan-angan panjang. “Seakan kematian hanya berlaku atas orang lain“. Sejauh ini dosa dan kemaksiatan merupakan pembunuh utama hati nurani. Hati menjadi keras membatu, watak menjadi beku dan hati menyempit. Ayat-ayat suci tak membekas di hati, kematian tak menghasilkan ibrah, luapan syahwat dunia semakin tak terkendali, wajah menggelap memantulkan kelam hati, hilang semangat beramal dan lenyap kelezatan dzikir.




Lihatlah para penjual ayat yang dengan ringan berfatwa bathil demi kekayaan diri. Do’a yang mereka bunyikan memang benar hanya bunyi. Dan bila ada kader muslim yang merasa, inilah zaman keterbukaan, lalu membumi hanguskan tradisi dakwah yang baik, mereka telah membunyikan lonceng kematian bagi hati nuraninya. Bila berpolitik, mereka hanya tahu intrik. Tak ada rasa malu merebut posisi, dengan berhias khayalan syaithani. Akulah Yusuf yang credible dan expert. Padahal begitu jauh jurang memisah, mana Yusuf, mana pemimpi di terik mentari. Golongan ini tak kenal mihwar tak kenal era, baginya semua adalah era naf’i dan mihwar maslahi (era mengambil keuntungan dan fase mengambil maslahat).




Orang-orang seperti itu harus kerap diajak menurunkan jenazah ke liang lahat, melepas kerabat di akhir nafas, atau berbiduk di lautan dengan gelombang yang ganas. Bila tak mempan, takbirkan empat kali bagi kematian hati nuraninya..


(Allahyarham Ust. Rahmat Abdullah)


 

(read more ...)


Sep 23

Renungkan dan Bersyukurlah

Tausyiah 0 Comment »








Ingatlah pemberian Allah kepada anda, betapa semua itu mengelilingi anda dari atas dan bawah,

bahkan sesungguhnya dari segala arah dan penjuru.


"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakanya". (ibrahim 14:34).


Kesehatan, keselamatan, kecukupan gizi, terpenuhinya sandang, pangan dan papan, tersedianya udara dan air, memiliki tubuh sempurna, ada dua mata, dua kaki, dua tangan, bibir dan lidah. Semua nikmat tersebut adalah bagian dari dunia yang menjadi milik anda, namun banyak dari anda yang tidak menyadarai bahkan tetap tidak mensyukuri bahwa anda telah memiliki semua itu.


"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan". (ar-rahman 55:13).


Bayangkanlah, jika anda harus berjalan tanpa kedua kaki?. Tidakah anda merasakan kenikmatan tidur pulas? disaat orang lain tidak bisa menikmatinya. Apakah anda lupa ketika menyantap makanan yang lezat dan segarnya air minum, sementara sekelompok orang yang menderita penyakit tidak bisa merasakan kenikmatan yang dianugrahkan kepada anda.


Renungkanlah, betapa Allah telah menganugrahkan kepada anda kemampuan mendengar dan melihat dengan sempurna, kemampuan anda untuk berpikir, sementara berapa banyak orang yang otak dan mentalnya dihinggapi penyakit. Pandanglah hidup anda, Allah dengan sifat Yang Maha Pengasih dan Penyayang, telah membebaskan anda dari penyakit yang sewaktu-waktu dapat menyerang hidup anda tanpa pernah tahu kapan, sementara sebagian orang tergolek tak berdaya berjuang melawan penyakit. Apakah anda masih belum mau bersyukur?


Bersediakah anda, jika kemampuan mendengar dan melihat anda dijual dengan emas sebesar gunung uhud, atau kemamapuan berbicara anda ditukar dengan sebuah istana yang megah?


Alangkah banyak anugrah yang telah diberikan Allah kepada anda, namun masih tetap saja anda tidak bersyukur. Meskipun anda menikmati hangatnya nasi, segarnya air, lelapnya tidur dan kesehatan yang prima, tetap saja anda merasa tertekan dan depresi, anda selalu memikirkan sesuatu yang tidak anda miliki dan tidak mensyukuri apa yang telah anda dapatkan. Anda selalu merasa resah dan cemas dengan hidup anda, kekurangan harta, penyakit yang menyerang dan sejuta masalah kehidupan. Anda terlalu banyak mengeluh dengan sedikit saja ujian dan cobaan dari Allah, padahal kita tahu permasalah tidak akan selesai dengan mengeluh. Anda tidak pernah menghitung berapa banyak pemberian dari Allah sang pencipta Yang Maha Kaya dan Maha Mengabulkan yang telah anda dapatkan. Renungkanlah tentang diri anda, keluarga, teman dan dunia yang ada disekitar anda. Bersyukurlah, bahwa anda masih memiliki kunci untuk mencapai kebahagiaan, yaitu hati anda,


Hati yang teduh, tenang dan damai,


Hati yang tidak pernah mengeluh dan putus asa,


Hati yang penuh kasih sayang,


Hati yang memancarkan cahaya ilahi,


Hati yang selalu bersyukur tawakal,


Hati yang selalu berdzikir.


 


(DR. Aidh bin Abdullah Al-Qarni)







 

(read more ...)
Agu 12

Bashirah (Kekuatan Mata Hati)

Tausyiah 2 Comment »











“Bahkan manusia sangat tajam melihat dirinya sendiri, walaupun ia melontarkan berbagai alasannya” (QS.AI-Qiyamah:14).




Para penganut Al-Qur’an tak ragu sedikitpun akan kesempurnaannya. la cahaya terang dan jalan lurus yang mengantar kepada keselamatan dunia dan kebahagiaan akhirat. la bashirah yang begitu jernih, tajam dan akurat mewartakan keadaan yang sesungguhnya, kemenangan yang terbentang dan bahaya yang mengancam, dengan segala syarat, sebab dan penawarnya. la memuat sejarah lampau, gambaran depan dan keadaan sekarang.




Namun apa yang didapat orang yang menutup rapat-rapat matanya sendiri, dari cahaya terang di sekitarnya? Terik mentari ditingkahi ribuan lampu sorot, tak menyelamatkannya dari terjerembab ke pelimbahan. Sebaliknya, lihatlah tuna netra yang berjalan di gelap malam, dapat selamat dan beroleh rizki mereka.




Allah Maha Adil, yang mengangkat sebagian orang dengan kekurangan fisiknya dan menjatuhkan lainnya walaupun berjasad sempurna. Tak ada makna kajian tema apa pun dalam kitab suci, sementara hati pengajinya berjelaga. Ada tikus mati dalam kandang, ada orang kehilangan tongkat dua kali atau terpagut ular dua kali di liang yang sama. Atau singa-singa mati lapar di padang dan daging pelanduk dilahap serigala. Ada budak tidur di tilam sutera, ada bangsawan berbaring di hamparan tanah.




Bila Nurani Bergetar

Berbahagialah pejuang yang tak mengkorupsi kemenangan masa depannya, walaupun hanya dengan sekedar rintih sesal didera lelah. Atau menumpang popularitas dengan nikmat tanpa rasa malu kepada-Nya. Mereka yang berhati nurani tak lagi melampirkan kesedihan, kesusahan, dan kelelahan kedalam neraca laba-rugi. Hati nurani mereka selalu hidup dan berbinar. Begitulah kiranya ketika Alkhalil Ibrahim AS meminta agar nabi yang dibangkitkan kelak dari keturunan Ismail AS, bertugas “….membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah dan menyucikan mereka..” (QS. AI-Baqarah:129), Allah mengijabah do’anya. Namun Ia menginginkan langkah kedua sesudah membacakan ayat-ayat-Nya dan sebelum mengajarkan Kitab dan Hikmah, satu kata kunci bagi keberhasilan da’wah ini, yaitu ‘menyucikan mereka‘                       (QS. Al-Baqarah:151, Ali Imran:164, Al Jumu’ah:2).




Nurani yang hidup mampu menjembatani perbedaan dan meredam perpecahan. “Ulama akhirat tak saling berbenturan, karena akhirat sangatlah luas. Ulama dunia selalu bertikai dan bermusuhan karena dunia terlalu sempit untuk mereka perebutkan.” (Imam Ghazali).

Allah menyebutkan perumpamaan ulama buruk (suu‘) yang berhati nurani mati, seperti Bal’am sebagai anjing, yang bila dihalau menjulur dan bila didiamkan tetap menjulur (QS. Al –A’raf: 176). Anjing akan lari mengejar tulang dengan sedikit daging segar. Dan tak akan tertegun memandangi perhiasan di tangan pelempar seharga 1 milyar. Dan ketika melewati telaga, sang anjing segera menerkam bayangan dirinya, karena mengira ada anjing lain yang menggigit tulang. la ingin menguasai semua tulang. Alangkah rakusnya! siapa yang telah rasakan dunia aku pun telah mengenyamnya telah digiring kepadaku pahitgetirnya aku tak melihatnya selain bangkai yang membusuk dikepung anjing-anjing dengan hanya satu semangat: cabik dan tarik!

Seorang imam sangat kecut dan malu ketika ada orang datang meminta sesuatu. “Oh, dosa apa yang kuperbuat, mestinya aku sudah menangkap hajatnya sebelum ia menyatakan permintaannya“. Tidakkah panitia zakat merasa tersindir ketika melihat kemiskinan hanya dari wajah pengemis profesional yang kerap menimbun harta melebihi keperluan. Al-Qur’an telah melekatkan sifat ‘jahil’ bagi mereka yang mengira para mujahid yang menjaga air wajahnya dengan menutup rapat-rapat penderitaan dan kemiskinan mereka, sebagai orang kaya. Sebaliknya sifat Rasul SAW disebutkan sebagai ma’rifah (kenal), karena dengan kejernihan bashirah mampu menangkap hakikat.




Karena itulah mereka mendapatkan jaminan baik bagi kehidupan kelak; “Beruntunglah orang yang tersibukkan oleh aib dirinya dari kesibukan mempersoalkan aib orang lain. la infakkan yang berlebih dari hartanya dan menahan yang berlebih dari perkataannya“

Kemiskinan dan kesenangan tak masuk agenda fikiran para perempuan generasi Salaf yang melepas keberangkatan para suami. “Hati-hati terhadap harta yang haram. Kami tahan terhadap kemiskinan tetapi takkan tahan terhadap neraka,” begitu pesan mereka.




Di depan iring-iringan yang membawa Imam Ahmad bin Hambal ke penyidangan yang zalim, menghadanglah seorang perempuan. “Wahai Imam, kami perempuan-perempuan yang bekerja menenun. Hari-hari ini serdadu sultan meningkatkan perondaan sepanjang malam dengan obor-obor mereka. Karena kami bekerja dibawah pancaran cahaya obor serdadu sultan zalim itu, maka hasil tenunan kami di atas atap rumah menjadi lebih baik dan kami mendapat keuntungan tambahan. Halalkah kami memakan kelebihan untung itu?“. Demikianlah radiasi bashirah Imam yang tak kenal kompromi dengan kebathilan, merasuki hati nurani rakyat yang menjadi begitu sensitif.


 


(Allahuyarham Ustadz Rahmat Abdullah)


 


 


 


 

(read more ...)
.::. Designed by SiteGround Web Hosting

cssandhtml