• Home
  • Abatasa
Mencari Setitik Cahaya Dalam Gelap
  • Profile

    • Saiful Bahri
      Saiful Bahri
      supel, humoris, sederhana
  • Categories

    • Artikel (1)
    • Cermin Hati (1)
    • Mutiara Kata (1)
    • SaMaRa (0)
    • Tausyiah (3)
  • Tag

  • Archives

    • October 2010
    • September 2010
    • August 2010
  • Links

  • Statistik

      Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 7837 kali


Sep 22

Muhassabah

Add comments

Dari waktu ke waktu, hari ke hari, kemarin, hari ini dan esok, bagai perjalanan seorang musafir yang terus menerus
berlalu tak kenal henti, ia melangkahkan kakinya kedepan, dan tak pernah ia mundur kembali kebelakang walau sejenak, mungkin kadang ia tengokkan wajahnya kebelakang. Perjalanan hidup kita ini memang tak pernah berhenti, bagai roda berputar pada porosnya, dari semenjak kita lahir, anak-anak hingga kini dewasa dan insyaAllah bila kita panjang umur, kita akan menikmati usia senja kita...

Seorang insan manusia sebelum ia lahir, telah mengikat perjanjian dengan Allah SWT didalam rahim Ibunya, bahwa Allah SWT adalah Tuhannya, dan berjanji untuk mengimani-Nya dan beribadah hanya kepada-Nya kelak ia dilahirkan kedunia, maka sebab itu manusia terlahir dalam keadaan suci, dan dengan bimbingan orang tuanya, keluarganya, orang terdekatnya, dan juga lingkungannya ia memiliki prinsip hidupnya dalam menjalani kehidupan ini, dan inilah perjalan hidup manusia seutuhnya, ketika waktu yang ia miliki, ia isi dengan berbagai macam perilakunya, berbagai macam sifatnya, amalnya, pekerjaan dan karyanya...

Dalam perjalanan seorang musafir menuju kepada tujuannya, sejenak ia teduhkan dirinya, ia kumpulkan kembali energi langkah dan pikirannya, dan tentunya mengevaluasi perjalanan jauhnya, apakah searah dengan jalan yang ia rencanakan sebelumnya. Begitupun kehidupan ini, sudah barang tentu sebuah evaluasi diri sangat urgent bagi perjalanan hidup selanjutnya. Kita perlu merenungkan apa yang telah kita lakukan, apayang telah kita amalkan, apayang telah kita kontribusikan, baik untuk kehidupan yang akan kita hadapi esok di dunia yang fana ini, dan apayang kita alami kelak di akhirat nanti...

Evaluasi diri adalah rem kita dalam mengendarai roda kehidupan yang terus berputar ini, mengistirahatkan kondisi ruhani kita yang kadang atau mungkin sering lepas kendali, karena faktor internal dalam diri kita, karena kurangnya ilmu, kurangnya wawasan, dan atau bisa jadi karena keringnya ruhiyah kita dari siraman tarbiyah, baik dzatiyah maupun jamaah, maupun sebab faktor eksternal dari lingkungan di sekitar kita, berupa tekanan-tekanan dalam pekerjaan yang penuh dengan persaingan, waktu yang kadang lebih sedikit dari tugas yang diemban, himpitan ekonomi, kriminalitas, musibah, dsb...

Evaluasi diri adalah tindakan nurani kita dalam menghitung setiap kebaikan yang kita lakukan dan kita pun berharap agar kebaikan itu terus berlanjut dan bertambah, dan juga menghitung keburukan kita dan berharap pada Allah SWT untuk mengampuni segala kesalahan/keburukan sifat-sifat kita, selanjutnya berharap dengan sekuat kemampuan untuk mengeliminirnya, sebagaimana Sayyidina Umar bin Khattab ra pernah mengatakan : "Hitunglah dirimu sebelum dihitung Allah SWT (di Padang Mahsyar)". karna sesungguhya (mengutip kembali perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra) yakni : Hari ini (dunia) ada amal dan tidak ada hisab, sedangkan esok (akhirat nanti) akan ada hisab dan tidak ada lagi amal...

wallahu ’alam bishowab

Jakarta, 13 Syawal 1431 H


Tweet
Share



0 Response to Muhassabah

Leave a Reply

.::. Designed by SiteGround Web Hosting

cssandhtml